
BSIP Berkarya: Peat Impacts-Indonesia Closing Seminar: Dukungan Pengelolaan Gambut Berkelanjutan
BSIP Berkarya: Peat Impacts-Indonesia Closing Seminar: Dukungan untuk Pengelolaan Gambut Berkelanjutan
Yogyakarta (10-11/12/2024), BPSI Tanah dan Pupuk Kementerian Pertanian melangsungkan kegiatan “Peat Impacts-Indonesia Closing Seminar” dihadiri oleh Ka BSIP yang dalam hal ini diwakili oleh Sekretaris BSIP, Dr. Haris Syahbuddin, DEA; Plt. BPSI Tanah dan Pupuk, Rima Purnamayani, SP, M.Si.; Ka Pusat Standardisasi Tanaman Pangan Dr. Ladiyani R Widowati; Ka BPSIP Yogyakarta; peneliti; mahasiswa; swasta; dan akademisi.
Peat IMPACTS (Improving the Management of Peatlands and the Capacities of Stakeholders in Indonesia) merupakan program kerjasama yang melibatkan Kementerian Pertanian melalui BPSI Tanah dan Pupuk, International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang didanai oleh Pemerintah Jerman melalui BMU-lKl. Program ini telah berlangsung sejak 2020 hingga Desember 2024 di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat. Kegiatan kerjasama ini melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah, swasta, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan masyarakat setempat. Dr. Sonya Dewi, Principal Investigator CIFOR-ICRAF Asia menyebutkan bahwa kolaborasi dapat berhasil melalui alat bantu dan kerangka kerja bersama, transformasi ilmu pengetahuan sebagai komponen penentuan kebijakan, dan peralihan dari pengetahuan dan pendidikan ke aksi nyata di lokasi lahan gambut.
Adanya kegiatan seminar ini bertujuan untuk mendiseminasikan berbagai hasil penelitian 5 tahun terakhir yaitu pengelolaan lahan gambut yang rendah emisi baik penelitian yang berasal dari Peat lMPACTS lndonesia, maupun dari berbagai lembaga penelitian lain dan perguruan tinggi. Serta merumuskan berbagai hasil penelitian sebagai bahan rekomendasi praktik dan kebijakan pengelolaan lahan gambut berkelanjutan.
Dari seminar ini diperoleh kesimpulan diantaranya berbagai aktivitas ekonomi di lahan gambut seperti pertanian, perkebunan, hingga agroforestry dapat berkelanjutan dengan mempertahankan muka air tanah. Pembangunan dan perawatan sekat kanal untuk meningkatkan muka air tanah dan menurunkan emisi CO2 juga menjadi hal penting untuk diperhatikan. Selanjutnya lahan gambut yang telah terdegradasi selain dilakukan pembasahan kembali juga membutuhkan revegetasi secara artifisial. Restorasi gambut artificial pasca kebakaran dapat mempercepat pemulihan lahan dan peningkatan cadangan karbon dibandingkan regenerasi alami. Namun demikian kombinasi antara regenerasi artifisial dan alami dapat dipilih dalam pengelolaan lahan gambut pasca kebakaran agar ekosistem yang seimbang antar sekuestrasi dan emisi dapat dicapai.
Melalui rangkaian program yang telah dijalankan ini diharapkan dapat menjadi dasar yang penting dalam perjalanan Indonesia menuju keberlanjutan lingkungan dan ketahanan iklim, sekaligus memperkuat posisi negara dalam upaya konservasi gambut di tingkat global. (Mtm, AFS)